Menganalisis
Gaya Bahasa Hiperbola dan Personifikasi pada Film THE LAND OF 5 TOWERS yang
Diangkat Dari Novel karya Ahmad Fuadi”.
Mata
Kuliah : Menyimak Apresiatif dan Kreatif
Dosen
Pengampu : Dr. M. Joharis Lubis, M.Pd
Disusun
oleh :
Nama : Yolanda Ginting
Nim
: 2192411008
Kelas : Reguler-D 2019
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI-UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh segala Puji dan syukur marilah kita ucapkan atas
kehadirat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan yang telah memberikan
kesempatan kepada Saya sebagai Penulis , sehingga saya dapat menyelesaikan Mini
Riset ini tepat pada waktunya. Tidak
lupa juga shalawat dan salam kehadirat nabi besar kita nabi Muhammad saw yang
akan kita harapkan syafaatnya dihari pembalasan kelak. Penulis juga tidak lupa mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. M. Joharis, M.Pd selaku dosen pengampu mata Menyimak
Apresiatif dan Kreatif yang telah
membimbing penulis untuk menyelesaikan tugas Mini riset ini.
2. Kepada
kedua orang tua Penulis yang sudah membantu Penulis dari segi materi dan kasih
sayang agar dapat menyelesaikan tugas tugas kuliah Saya.
3. Kepada
semua pihak yang terlibat dalam penyesain tugas Mini riset ini.
Penulis sadar bahwa dalam tugas ini
masih jauh dari kata sempurna karena masih terdapat banyak kesalahan baik dari
segi fisik maupun isi materi. Untuk itu Penulis sangat mengharapkan masukan
berupa kritik dan saran dari para pembaca. Akhir kata Penulis berharap bahwa tugas ini akan dapat menambah
wawasan kita tentang menyimak apresiatif dan kreatif , bukan hanya untuk kami
tapi untuk semua para pembaca. Terimakasih.
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A.
Latar
Belakang Masalah 1
B.
Rumusan
Masalah 3
C.
Tujuan
Survey 3
D.
Manfaat
Survey 3
BAB II LANDASAN TEORI 5
A.
Pengertian
Film 5
B.
Unsur
– Unsur Film 6
BAB III METODE SURVEY 9
A.
Waktu
Survey 9
B.
Subjek
Survey 9
C.
Teknik
Pengumpulan Data 9
D.
Instrument
Penelitian 9
E.
Teknis
Analisis Data 9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 10
BAB V PENUTUP 26
A.
Simpulan 26
B.
Saran
26
DAFTAR PUSTAKA 28
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Novel
merupakan karya sastra yang berisi tentang cerita fiktif dan non-fiktif. Banyak
sekali film-film yang ceritanya diangkat dari sebuah novel.film Negeri 5 Menara
diangkat darinovel trilogi karya Ahmad Fuadi. Novel tersebut merupakan kisah
nyata sang pengarang yang dituangkan ke dalam novel, lalu divisualisasikan ke
dalam sebuah film.
Peneliti
tertarik menggunakan judul Analisis Gaya Bahasa Hiperbola dan Personifikasi
Pada Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi dikarena kebanyakan memang
pengarang karya sastra selalu berusaha menunjukan kemampuan sastranya dengan
mengolah kata-kata dan kalimat seindah mungkin. Keindahan inilah yang membuat
status pengarang menjadi tinggi atau tidak. Dalam mengolah kata atau kalimat,
mereka biasanya secara tidak langsung akan menggunakan berbagai macam gaya
bahasa seperti penggunaan kata-kata slang, kata-kata metafora, peribahasa, dan
lain-lain. Karena itulah peneliti tertarik untuk meneliti Novel Negeri 5 Menara
karya Ahmad Fuadi, untuk mengetahui seberapa jauh ia menggunakan kata-kata
indah dalam novelnya.
Novel
Negeri 5 Menara menceritakan tentang pengalaman
hidup pengarang. Novel Negeri 5 Menara menceritakan tokoh utamanya yaitu
Alif yang memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah di SMU namun ditentang
oleh kedua orangtuanya. Perbedaan pandangan antara Alif dengan orangtuanya
mengakibatkan terjadinya konflik batin dalam diri Alif. Namun,
penyesalan Alif berakhir ketika
dia sudah berada di pondok selama beberapa tahun, Alif baru menemukan hikmah. Setelah lulus dari
pondok Alif kembali mengalami konflik batin tentang lulusan pondok yang tidak
dapat melanjutkan ke
perguruan tinggi. Namun, Alif dapat membuktikan bahwa alumni pondok pesantren
juga dapat masuk perguruan tinggi dengan
mengikuti ujian kesetaraan. Begitu
kerasnya semangat Alif dalam mengahadapi setiap kendala dalam hidupnya
diceritakan dalam novel Negeri 5 Menara.
Keraf
(2004: 133) mengungkapkan bahwa gaya bahasa adalah dapat diketahui sebagai cara
mengungkapkan pikiran melalui bahasa
secara khas yang memperlibatkan jiwa dan kepribadian
penulis (pemakai bahasa). Gaya bahasa berguna untuk menimbulkan keindahan dalam
karya sastra atau dalam berbicara. Setiap orang atau pengarang memiliki cara
tersendiri dalam memilih dan menggunakan gaya bahasa. Gaya bahasa juga disebut
dengan majas. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat melihat pribadi, watak, dan
kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa tersebut. Semakin
baik gaya bahasanya, maka semakin
baik pula penilaian orang terhadapnya, dan juga sebaliknya semakin buruk gaya
bahasa seseorang, semakin buruk pula
penilaian kepadanya.
Sebuah
karya sastra tidak terlepas dari bahasa karena bahasa merupakan medium karya
sastra. Menurut Harjito (2007: 20) karya sastra bersifat didaktis artinya
penceritaan ditunjukan kepada pembaca untuk memberi nasihat. Karya sastra tidak
hanya menyajikan hal-hal yang menghibur akan tetapi di dalamnya terkandung
nilai-nilai masyarakatan yang berguna bagi pembaca. Karya sastra merupakan
hasil kreasi sastrawan melalui kontemplasi dan refleksi setelah menyaksikan
berbagai fenomena kehidupan dalam lingkungan sosialnya. Salah satu dari sebuah
karya sastra dalah novel.
Di
hari pertama di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man
jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dipersatukan oleh
hukuman jewer berantai, Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari
Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Berdasakan
latar belakang di atas, maka penulis melakukan penelitian terhadap novel Negeri
5 Menara karya Ahmad Fuadi dengan judul ”Analisis Gaya Bahasa Hiperbola dan
Personifikasi pada Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi”.
B. Batasan Masalah
Batasan
masalah dalam penelitian ini adalah pada gaya bahasa hiperbola dan personifikasi
pada Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, serta makna gaya bahasa Hiperbola
dan personifikasi pada Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi.
C. Rumusan Masalah
Dalam
penelitian ini ada dua masalah yang perlu dibahas.
1.
Bagaimana bentuk pemakaian gaya bahasa
hiperbola dan personifikasi yang terdapat dalam novel Negeri 5 Menara karya
Ahmad Fuadi?
2.
Bagaimana makna gaya bahasa hiperbola
dan personifikasi dalam novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi?
D. Tujuan Penelitian
Ada dua tujuan yang
ingin dicapai dalam penelitian ini.
1.
Mendeskripsikan gaya bahasa hiperbola
dan personifikasi yang terdapat dalam novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi.
2.
Mendeskripsikan makna gaya bahasa
hiperbola dan personifikasi dalam novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi.
E. Manfaat Penelitian
Suatu
penelitian ilmiah harus memberikan manfaat secara teoretis maupun praktis
sehingga teruji kualitas penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti.
Adapun manfaat yang dapat diberikan penelitian ini dijelaskan berikut ini.
1.
Manfaat Teoretis
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memperluas khasanah ilmu pengetahuan terutama
di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia serta menambah wawasan dan pengetahuan
baik bagi penulis maupun bagi pembaca dan pecinta sastra.
2.
Manfaat Praktis
a.
Penelitian novel Negeri 5 Menara karya
Ahmad Fuadi ini dapat digunakan sebagai bahan
perbandingan dengan penelitian-penelitian lain yang telah ada
sebelumnya khususnya dengan menganalisis gaya bahasa.
b.
Penelitian ini diharapkan mampu
digunakan oleh pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah sebagai materi
ajar khususnya materi sastra.
c.
Sebagai motivasi dan referensi
penelitian karya sastra Indonesia agar setelah peneliti melakukan penelitian
ini muncul penelitian-penelitian baru sehingga dapat menumbuhkan motivasi dalam
kesusastraan Indonesia.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A. Pengertian film
Film adalah
gambar-hidup ,juga sering disebut movie.film secara koletif sering disebut
sinema.sinema itu sendiri bersumebr dari kata kinematik atau gerak Film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie. Film juga
sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa di kenal di dunia
para sineas sebagai seluloid. Pengertian secara harafiah film (sinema) adalah
Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie =
grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak
dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak dengan cahaya, kita harus
menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan kamera.
Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi
dan figur palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi. Kamera film menggunakan
pita seluloid (atau sejenisnya, sesuai perkembangan teknologi). Butiran silver
halida yang menempel pada pita ini sangat
sensitif terhadap cahaya. Saat proses cuci film, silver halida yang
telah terekspos cahaya dengan ukuran yang tepat akan menghitam, sedangkan yang
kurang atau sama sekali tidak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan
pengembang (developer).
Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang
dilapisi dengan zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut
selluloid. Dalam bidang fotografi film ini menjadi media yang dominan digunakan
untuk menyimpan pantulan cahaya yang tertangkap lensa. Pada generasi berikutnya
fotografi bergeser padapenggunaan media digital elektronik sebagai penyimpan
gambar. Dalam bidang sinematografi perihal media penyimpan ini telah mengalami
perkembangan yang pesat. Berturut-turut dikenal media penyimpan selluloid
(film), pita analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram, memori
chip). Bertolak dari pengertian ini maka film pada awalnya adalah karya
sinematografi yang memanfaatkan media selluloid sebagai penyimpannya.
Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi,
maka pengertian film telah bergeser. Sebuah filmcerita dapat diproduksi tanpa
menggunakan selluloid (media film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film
yang menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap
pasca produksi gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital dapat
disimpan pada media yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat
disimpan Pada media selluloid, analog maupun digital. Perkembangan teknologi
media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari istilah yang mengacu
pada bahan ke istilah yeng mengacu pada bentuk karya seniaudio-visual.
Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang
menggunakan audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.
B. Unsur-Unsur Film
Film mempunyai unsur-unsur yang terkandung di dalam unsur-unsur tersebut
adalah:
1.
Unsur Intrinsik
Unsur yang terdapat di dalam karya sastra.yang mempengaruhi karya sastra
tersebut,unsure intrinsik dalam cerita meliputi :
a.
Tema
Pokok persoalan dalam cerita.
b.
Karakter tokoh
Tokoh dalam cerita. Karakter dapat berupa manusia, tumbuhan maupun
benda. Karekter dapat dibagi menjadi:
Karakter utama: tokoh yang membawakan tema dan memegang banyak peranan
dalam cerita
Karakter pembantu: tokoh yang mendampingi karakter utama
Protagonis : karakter/tokoh yang mengangkat tema.
Antagonis : karakter/tokoh yang memberi konflik pada tema dan biasanya
berlawanan dengan karakter protagonis. (Ingat, tokoh antagonis belum tentu
jahat).
c.
Konflik
Konflik adalah pergumulan yang
dialami oleh karakter dalam cerita dan . Konflik ini merupakan inti dari sebuah
karya sastra yang pada akhirnya membentuk plot. Ada empat macam konflik, yang
dibagi dalam dua garis besar:
a.
Konflik internal
Individu-diri sendiri: Konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik
ini ditandai dengan gejolak yang timbul dalam diri sendiri mengenai beberapa
hal seperti nilai-nilai. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya
menghadapi gejolak tersebut
b.
Konflik
eksternal
Individu – Individu: konflik yang dialami seseorang dengan orang lain Individu – alam: Konflik yang dialami individu dengan alam. Konflik ini
menggambarkan perjuangan individu dalam usahanya untuk mempertahankan diri
dalam kebesaran alam. Individu- Lingkungan/ masyarakat : Konflik yang dialami
individu dengan masyarakat atau lingkungan hidupnya.
d.
Seting
Keterangan tempat, waktu dan suasana cerita. Sebuah cerita harus jelas
dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita
berlangsung
e.
Plot / Alur
Jalan cerita dari awal sampai selesai
1.
Eksposisi : penjelasan
awal mengenai karakter dan latar( bagian cerita yang mulai memunculkan konflik/
permasalahan)
2.
Klimaks : puncak konflik/ ketegangan
3.
Falling action:
penyelesaian
f.
Sudut pandang
Sudut pandang yang dipilih penulis untuk menyampaikan ceritanya.
1.
Orang pertama:
penulis berlaku sebagai karakter utama cerita, ini ditandai dengan penggunaan
kata “aku”. Penggunaan teknik ini menyebabkan pembaca tidak mengetahui segala
hal yang tidak diungkapkan oleh sang narator. Keuntungan dari teknik ini adalah
pembaca merasa menjadi bagian dari cerita.
2.
Orang kedua: teknik
yang banyak menggunakan kata ‘kamu’ atau ‘Anda.’ Teknik ini jarang dipakai
karena memaksa pembaca untuk mampu berperan serta dalam cerita.
3.
Orang ketiga: cerita
dikisahkan menggunakan kata ganti orang ketiga, seperti: mereka dan dia.
g.
Teknik penggunaan bahasa
Dalam menuangkan idenya, penulis biasa memilih kata-kata yang dipakainya
sedemikian rupa sehingga segala pesannya sampai kepada pembaca. Selain itu,
teknik penggunaan bahasa yang baik juga membuat tulisan menjadi indah dan mudah
dikenang. Teknik berbahasa ini misalnya penggunaan majas, idiom dan peribahasa.
h.
Amanat
Nilai (amanat) : pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang
malalui cerita.
2.
Unsur Ekstrinsik
Dikatakan Fananie (2001:77) Faktor ekstrinsik adalah segala faktor luar
yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra. Ia merupakan milik subjektif
pengarang yang bisa berupa kondisi social, motivasi, tendensi yang mendorong
dan mempegaruhi kepengarangan seseorang. Faktor-faktor ekstrinsik itu dapat
meliputi :
a.
Latar belakang
pengarang
b.
Tradisi dan
nilai-nilai
c.
Struktur kehidupan
sosial
d.
Keyakinan dan
pandangan hidup
e.
Tata rias
f.
Tata busana
g.
Tata artistik
h.
Aliran
BAB III
METODE SURVEY
A.
Waktu survey
Penelitian mini
riset ini dilakukan pada tanggal 22 Mei 2020 pukul 11:00 wib- 14:00 wib.
B.
Subjek survey
Subjek survey dari
penelitian mini riset ini adalah berupa sebuah film yang diputar secara online
di media sosial.
C.
Teknik pengumpulan
data
1. Observasi
Observasi adalah
pemilihan , pengubahan, pencatatan, dan pengkodean serangkaian pelaku dan
suasana yang berkenaan dengan organisme sesuai dengan tujuan –tujuann empiris.
D.
Instrument
penelitian
Instrumen penelitian
pada film ini adalah penggunaan gaya bahasa hiperbola dan personifikasi.
E.
Teknis analaisis
data
Pemutaran film
Negeri 5 menara melalui youtube dan ditonton oleh peneliti kemudian selama
pemutaran film Negeri 5 menara penelitimulai menganalisis gaya bahasa hiperbola
dan personifikasi pada Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, serta makna
gaya bahasa Hiperbola dan personifikasi pada Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad
Fuadi. Lalu kemudiaan peneliti juga dibantu dengan pencarian data yang lebih
akurat melalui internet jika ingin menambah data tentang film Negeri 5 menara.
BAB
IV
PEMBAHASAN
A.
Sinopsis
Novel Negeri 5 Menara
Cerita
yang berawal dari sebuah paksaan hati karena tak ingin menolak permintaan orang
tua, berangkatlah seorang pemuda Minang yang baru saja memulai jalan hidupnya.
Dengan sepotong doa dan sekepal semangat, Alif Fikri akhirnya melangkahkan kaki
ke Pondok Madani (PM) yang menjadi rumahnya untuk beberapa tahun ke depan.
Namun Tak disangka dia bertemu dengan sahabat-sahabat yang sangat luar biasa,
yang membuat keterpaksaannya menjadi lenyap, sebuah persahabatan yang kuat.
Said Jufri dari Surabaya (Menara 1), Raja Lubis dari Medan (Menara 2), Atang
dari Bandung (Menara 4), Dulmajid dari Madura (Menara 5), dan Baso Salahuddin
dari Sulawesi (Menara 6), adalah kelima sahabat Alif (Menara 3) di PM. Mereka
berenampun dipanggil Sahibul Menara oleh teman-teman yang lain. Sahibul Menara
berarti yang punya menara. Proses pembelajaran terus berjalan, tak terasa sudah
lama mereka hidup bersama. Sahibul Menara semakin erat persahabatannya. Banyak
kejadian yang telah Alif lewati bersama sahabat-sahabatnya.
Suatu
ketika saat Sahibul Menara sedang berkumpul, mereka mengamati awan yang
bergerak membentuk pola-pola tertentu, dan mereka mulai berimajinasi tentang
negara-negara yang ingin mereka jelajahi dan kunjungi. Keenam sahabat ini memiliki
cita-cita masing-masing ada 5 negeri dengan 4 benua dan masing- masing negeri
ada menara yang menjadi simbol negeri tersebut. Cita-cita yang sangat ingin
mereka capai yaitu menjelajahi dan mengunjungi: Arab Saudi, Mesir, Amerika,
Inggris, dan Indonesia. Kegudahan untuk menetap di PM masih sangat besar di
hati Alif walaupun dia telah menemukan keluarga baru di PM. Beberapa kali
bahkan niat untuk keluar dari PM sempat terpikir dibenaknya menjadi kawan dalam
ia berpikir tentang cita- citanya yang dulu. Alif terus berjuang ditengah
kegundahan hatinya, bersama sahabat-sahabatnya ia berhasil melewati itu semua.
Adat di PM ada sebuah pertunjukkan yang harus ditampilkan oleh santri-santri
sebelum kelulusan. Semua santri ikut serta dalam pertunjukkan tersebut tak
terkecuali Sahibul Menara. Pertunjukkan yang sudah disiapkan matang-matang oleh
santri kelas 6, sebuah pertunjukkan yang telah dinanti oleh banyak orang.
Pertunjukkan yang membuat penonton takjub dan berdecak kagum. Pertunjukan yang
menampilkan perjalanan Ibnu Batutah, semua sepakat menampilkan cerita ini.
Berkat kerjasama yang baik, pertunjukkan yang mereka tampilkan berhasil membuat
penonton merasakan bagaimana angin berhembus di padang pasir, air hujan yang
seakan benar-benar turun, dan merasakan ada di atas awan.
Kebersamaan Sahibul
Menara tak bisa sampai di ujung pertempuran sebenarnya. Di penghujung waktu
pertempuran saat sebuah kepemimpinan menjadi tugas mereka dan ketika ujian
akhir benar-benar di depan mata Baso Si cerdas harus lebih dahulu pergi dari PM
untuk memberikan semangat hidup kepada keluarga satu-satunya yaitu neneknya.
Kepergian Baso dari PM tidak membuat Sahibul Menara yang lain putus asa, mereka
tetap berjuang untuk mencapai menara mereka masing-masing. Saat kelulusan dari
PM tiba semua bergembira dan menjabat tangan dengan bersemangat, Sahibul Menara
lulus semua banyak jabat tangan terjadi saat itu. Akhir penceritaan ditutup
dengan Alif, Raja, dan Atang bertemu di London dan menelpon Said, Dulmajid, dan
Baso yang telah berhasil mencapai menara mereka masing-masing, dan ternyata
semua Sahibul Menara telah memiliki pasangan masing-masing.
B. Inventarisasi Lima dalam Novel
Negeri 5 Menara
Inventarisasi lima
dalam novel Negeri 5 Menara yaitu:
1.
Judul Novel Negeri 5 Menara
Objek
dari tanda lima yang pertama adalah judul novel Negeri 5 Menara yaitu Negeri 5
Menara, yang memang sudah jelas judulnya ada lima. Judul merupakan hal pertama
yang akan dilihat pembaca dan merupakan
elemen terluar dari suatu karya sastra.
2.
Lima Negara Empat Benua
Lima
Negara Empat Benua merupakan judul dari subbab yang ada di dalam novel Negeri 5
Menara, subbab ke-24 dari novel Negeri 5 Menara, sekaligus menjadi objek yang
kedua untuk tanda lima yang ada di dalam Negeri 5 Menara.
3.
Lima Sahabat Baru
Alif
memiliki lima sahabat baru yaitu Atang, Dulmajid, Said, Baso, dan Raja. Kelima
sahabat baru ini sering ditemukan di dalam novel Negeri 5 Menara dan objek dari
lima selanjutnya.
4.
Lima Kota yang Berbeda
Surabaya,
Medan, Madura, Gowa, dan Bandung merupakan kota-kota asal dari sahabat Alif.
Kelima kota yang berbeda ini menjadi objek dari tanda angka.
5.
Lima Impian yang Tercapai
Impian/Cita-cita/Mimpi
apabila terus diperjuangkan pasti akan tercapa. Kelima impian yang Sahibul
Menara harapkan akhirnya terwujud lewat perjuangan dan dorongan yang kuat dari
diri sendiri, keluarga, serta restu dari Allah SWT. Impian-impian yang tercapai
akan menjadi objek terakhir yang peneliti temukan di dalam novel Negeri 5
Menara.
C. Makna Lima
Novel
yang telah diangkat ke layar lebar ini memberikan suguhan bacaan yang berbeda
dengan novel lainnya. Latar belakang pesantren yang memang jarang diangkat
menjadi sebuah karya sastra. Menurut peneliti novel ini telah berhasil
menggambarkan pesona kehidupan pesantren, yang peneliti sendiri awalnya belum
mengetahuinya. Di dalam novel Negeri 5 Menara (N5M)- seterusnya peneliti akan
menggunakan N5M sebagai petunjuk judul novel banyak unsur yang menarik dan
membangun untuk pemuda Indonesia di masa yang akan datang, sehingga tidaklah rugi
kalau novel ini menjadi sebuah bacaan wajib.
Adanya
gambar lima menara yang ada di sampul novel membuat novel N5M menjadi lebih
menarik lagi. Ternyata setelah dianalisis ada tanda lima yang lain, di dalam
novel N5M. Tanda lima ini muncul saat menjelaskan tentang kehidupan Alif Fikri
sebagai tokoh utama, kelima sahabat Alif yang datang dari berbagai daerah di
Indonesia, lima impian mereka yang berbeda-beda, lima negara yang mereka tuju,
dan tentunya ada lima menara yang menjadi simbol dari kelima negara yang
menjadi negara tujuan mereka.
1.
Judul Novel Negeri 5 Menara
Judul
adalah elemen yang pertama dilihat oleh pembaca karya sastra. Seperti
dikemukakan Sayuti (2000:147) judul merupakan elemen lapisan luar suatu karya
sastra. Oleh karena itu, judul merupakan elemen yang paling mudah dikenali oleh
pembaca. Judul sering kali dikaitkan dengan isi dari karya sastra itu sendiri.
Pembahasan pada penelitian ini akan di awali dari judul novel yaitu Negeri 5
Menara.
Objek
dari tanda lima yang pertama adalah judul novel N5M yang memang sudah jelas
judulnya ada lima. Negeri dari judul “Negeri 5 Menara” menjadi objek sedangkan
5 Menara dari judul novel tersebut dapat dijadikan objek yang bersifat simbol
dari masing-masing negeri yang ada di dalam novel. Jadi, ada lima menara yang
akan diinterpretasikan. Hal ini juga dihubungkan dengan menara yang menjadi
ciri khas di setiap negeri (Amerika, Inggris, Mesir, Arab Saudi, dan Indonesia)
yang ingin Alif dan sahabatnya taklukan. Menara adalah simbol untuk menerangkan
sebuah impian atau cita-cita yang tinggi, seperti pada kutipan berikut ini:
“. . .Bagaikan menara,
cita-cita kami tinggi menjulang. Kami ingin sampai di puncak-puncak mimpi
kelak.”(N5M, 2011: 94)
Kutipan
di atas inilah yang menjadikan kata “Menara” untuk dipilih sebagai judul novel.
Perumpamanan menara dari novel tersebut menegaskan bahwa ada cerita dan
keinginan tersendiri yang berkesan bagi setiap penduduk yang ada di negeri
tersebut. Semua menara yang ada akan peneliti jadikan objek yang tentu ada
representemannya dan interpretasi dalam penelitian semiotik sesuai dengan teori
segitiga yang telah dijelaskan Pierce pada landasan teori sebelumnya.
Menara
yang pertama adalah menara yang ingin ditaklukan oleh tokoh utama, Alif. Alif
ingin menaklukan negeri Amerika yang super power, dan tekad Alif sudah bulat
ingin ke Amerika, seperti ditunjukkan kutipan di bawah ini:
“Di kepalaku berkecamuk
badai mimpi. Tekad sudah aku bulatkan: kelak aku ingin menuntut ilmu keluar
negeri, kalau perlu sampai ke Amerika.
...” (N5M, 2011: 212)
Kata
“Amerika” jelas menunjukkan negeri yang bernama Amerika dan terdapat menara
yang dibangun di negeri tersebut. Bila dikaitkan dengan sampul depan novel N5M,
jelas yang dimaksud tokoh Alif adalah Menara Washington, namun tidak hanya
dilihat dari sampul novel di dalam novel pun ada tanda-tanda yang menunjukkan
bahwa menara yang ingin Alif taklukan adalah Menara Washington yang memiliki
cerita di balik pembangunan menara tersebut. Bisa dilihat pada kutipan di bawah
ini:
“ Washington DC,
Desember 2003, jam 16.00”.(N5M, 2011: 1). “...dia mengabarkan di Washington DC,
ibukota negara superpower ini,. ” (N5M, 2011: 208).
Menara
Washington dibangun untuk mengenang kepemimpinan presiden pertama Amerika yaitu
George Washington yang berhasil merebut Amerika dari jajahan Inggris (http://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Washington).
Motivasi pembangunan menara Washington karena untuk mengenang George Washington
sebagai panglima Tentara
Kontinental sejak 1775
yang berperang melawan penjajah (Inggris), George
Washington berhasil mengalahkan pasukan lawan dengan jumlah pasukan dan
peralatan yang lebih sedikit, dan membawa Amerika Serikat ke kemerdekaan pada
tahun 1776. Pada 1787, sebagai Presiden Konvensi Konstitusional, Washington
berperan besar dalam membentuk pemerintahan yang mampu bertahan
lebih dari 200
tahun. Dua tahun
kemudian, pada 1789, Washington terpilih dengan suara bulat
sebagai Presiden Amerika Serikat yang pertama. Menara Washington inilah yang
dimaksud dengan simbol sekaligus interpretasi dari sebuah kemerdekaan bagi
setiap manusia di dunia, kemerdekaan yang dimaksud adalah kebebasan untuk tidak
bergantung pada orang lain sesuai dengan kutipan di bawah ini, yang juga
membuat Alif menjadi orang yang mandiri seperti yang diajarkan di PM dari
cerita novel N5M....“Mandirilah maka kamu akan jadi orang merdeka dan maju.
I’timad ala nafsi, bergantung pada diri sendiri, jangan dengan orang lain.
Cukuplah bantuan Tuhan yang menjadi anutanmu”...(N5M, 2011: 81-82).
Tokoh
Alif juga terkesan mendengarkan informasi dari Amerika itu, seperti hebatnya
Amerika di balik keberhasilan bangsa tersebut lolos dari kekhilafan sejarah
Eropa dan juga perkembangan Islam di Amerika. Hal ini dibuktikan dari kutipan
berikut:
“Mungkin aku
terpengaruh Ustad Salman yang bercerita panjang lebar bagaimana orang
kulit putih Amerika sebagai sebuah bangsa berhasil meloloskan diri dari
kekhilafan sejarah Eropa dan membuat dunia yang baru. Yang lebih baik dari
bangsa asal mereka sendiri.” (N5M, 2011: 207) “Mungkin juga aku terpengaruh
oleh siaran radio VOA yang diasuh oleh penyiar Abdul Nur Adnan yang berjudul
“Islam di Amerika” ” (N5M, 2011:
207-208) “ Bagian Penerangan selalu mengudarakan acara Pak Nur yang selalu melaporkan
perkembangan Islam di Amerika Serikat Misalnya, dia mengabarkan di Washington
DC, ibukota negara superpower ini, telah berdiri sebuah masjid raya yang besar
di daerah elit pula. Di kampus- kampus Amerika semakin banyak jurusan tentang
kajian Islam dan mahasiswa datang dari berbagai negara Islam untuk belajar ilmu
dan teknologi terkini ”(N5M, 2011: 208)
Menara
yang kedua, yakni menara Big Ben yang merupakan tujuan dari tokoh pemuda Batak
yaitu Raja Lubis. Tokoh Raja terpesona dengan Menara Big Ben yang cantik.
Cantik yang dimaksud oleh tokoh Raja adalah di Menara Big Ben (sekarang bernama
Menara Elizabeth) tersebut terdapat empat jam besar yang ada di setiap sudut
menara membuat setiap orang di London bisa melihat jam tersebut. Jam ini
terkenal karena ketepatannya dan jam bermuka empat ini telah menjadi ikon
Inggris dan keakurasiannya terkenal sampai ke seluruh dunia
(http://matahatiku.com/big-ben-menara-jam-raksasa-yang-menjadi-icon-kota-london/). Pendesainnya adalah
seorang pengacara dan horologis
amatir Edmund Beckett Denison dan
George Airy, seorang Astronom Kerajaan
(http://id.wikipedia.org/wiki/Big_Ben).
Makna
adanya jam di
Menara Big Ben menunjukkan
tentang pentingnya kedisiplinan yang dalam hal ini mengarah pada ketepatan
waktu, sehingga objeknya adalah menara itu sendiri, representasinya yaitu
Menara Big Ben (Menara Elizabeth), sedangkan interpretasi sekaligus simbol dari
kedisiplinan waktu, berikut buktinya: “...Malah menurutku lebih mirip benua
Eropa. Tuh, kan…,” tukas Raja sambil menjalankan jarinya di udara,...” (N5M,
2011:208) “...Lalu aku ingin melihat kehebatan kerajaan Inggris yang pernah
mengangkangi dunia. Aku penasaran dengan cerita dalam buku reading kita, ada
Big Ben yang cantik dan bagian rute jalan kaki dari Buckingham Palace ke
Trafalgar Square,” kata Raja menggebu-gebu kepada kami ”(N5M, 2011: 208-209) Raja
lubis di awal penceritaan mengalami keterlambatan untuk mendaftar di PM,
sehingga membuat dia harus mengulang mendaftar pada tahun yang sama dengan
Alif. Raja yang tidak ingin melakukan keterlambatan lagi memilih menara Big Ben
(sekarang menara Elizabeth) impiannya, kutipan Raja mengalami keterlambatan
yaitu, “...Raja yang berasal dari pinggir Kota Medan ini tahun lalu gagal masuk
PM karena terlambat mendaftar. ” (N5M, 2011: 44)
Menara
ketiga, yaitu Menara Al-Azhar (dilihat dari sampul novel N5M) yang berada di
Kairo, Mesir yang menjadi tempat tujuan Atang setelah tamat dari PM. Menara ini
menjadi objek dari representamen Menara Al-Azhar yang menginterpretasikan bahwa
kita harus memiliki ilmu dan pengetahuan yang cukup luas untuk meraih cita-cita
kita. Mesir juga terkenal dengan julukan “ibu” peradaban dunia Dan Al-Azhar pun
kini menjadi Universitas Islam yang tertua, sebagai ibu bagi para penerus
estafet perjuangannya baik di Timur maupun di Barat. Ia merupakan benteng
pertahanan keilmuan dan pemikiran dari hunjaman dan serangan musuh-musuh
Islam (http://firdauzwajdi.wordpress.com/sekilas-ttg-al-azhar/). Keinginan
Atang ingin ke
Mesir disampaikan ketika
para Sahibul Menara sedang
berimajinasi tentang awan-awan yang mereka ubah kebentuk tempat-tempat yang
ingin mereka taklukan, berikut kutipannya: “...Apalagi Mesir yang disebut ibu
peradaban dunia. Ada Laut Merah, Kairo, Pira-mid, dan sampai kampus Al Azhar.
Siapa tahu nanti aku bisa kuliah ke sana,” tekad Atang.” (N5M, 2011: 209)
Kata-kata
“Siapa tahu nanti aku bisa kuliah ke sana” merujuk pada kampus Al-Azhar yang
memang hingga saat ini menjadi kampus terpopuler pilihan mahasiswa Indonesia
khususnya untuk melanjutkan studinya. Seperti pendapat berikut
(http://cuenkx.wordpress.com/2010/10/19/al-azhar-memang-tak-setua-sejarah-tetapi-masih-aktual-untuk-di-perbincangan/) sampai kini, Mesir masih menjadi idola sebagian besar
para peminat studi ilmu-ilmu keislaman. Maklum, di negeri Lembah sungai Nil ini
terdapat universitas tertua di dunia, Universitas Al-Azhar. Dari data yang ada
menunjukkan, minat para calon mahasiswa asal Indonesia terus meningkat.
Kebanyakan mereka mengambil bidang studi ilmu-ilmu keislaman di Universitas
Al-Azhar, karena sesuai dengan objek tanda yaitu menara, yang representamennya
yaitu menara Al-Azhar yang diinterpretasikanoleh peneliti adalah tempat yang
penuh ilmu pengetahuan.
Menara
keempat, yaitu menara yang ada di Masjidil Haram, menara yang ingin dituju oleh
Baso adalah objek yang representamennya adalah menara dari Masjidil Haram, dan
interpretasi dari simbol keislaman yang kuat, karena di Mekkah tempat umat Islam
beribadah haji. Peneliti menyebutkan menara keempat ini adalah menara Masjidil
Haram karena saat mendengar kata Mekkah langsung tergambarkan Ka’bah yang
berada di Masjidil Haram. Dan Masjidil Haram pun memiliki menara yang berjumlah
9 (http://id.wikipedia.org/wiki/Masjidil_Haram)
menjadikan interpretasi peneliti tambah kuat bahwa menara yang dimaksud adalah
Menara Masjidil Haram. Menurut Nasution (2004: 26) Masjidil Haram sangat mulia
dan sangat dihormati oleh seluruh umat Islam, karena di dalam Masjidil Haram,
Maqam Ibrahim, dan Zamzam.
“...Baso terus memegang
teguh niatnya untuk sekolah ke Arab, seperti yang kami mimpikan di bawah menara
menjelang Maghrib....” (N5M, 2011: 363). Mekkah adalah tempat yang membuat Baso
selalu terobsesi untuk melanjutkan sekolahnya tentu saja dengan modal hafalan
Al-Quran yang ia miliki. Jadi, dalam meraih cita-cita kita harus tetap dekat
dengan Allah SWT. karena skenario-Nya akan lebih indah dan luar biasa. Mekkah tidak
hanya tempat untuk beribadah tetapi juga sebagai tempat untuk menimba ilmu,
berikut buktinya:
““Selain itu, aku
mendengar, orang yang hapal Al-Quran bisa mendapatkan beasiswa penuh untuk
kuliah di Madinah dan Mekkah, tempat yang aku mimpikan untuk belajar nanti
”(N5M, 2011:363)
Menara
terakhir, adalah menara yang dipilih oleh Said dan Dulmajid adalah Menara
Monas, yang berada di Jakarta, Indonesia. Menara kelima yang ingin Dulmajid dan
Said adalah objek dari tanda dan representamennya yaitu Monas. Monas peneliti
jadikan menara terakhir karena Said dan Dulmajid memang ingin mengembangkan
Indonesia, dan kalau berbicara Indonesia pasti bersinggungan langsung dengan
Jakarta, yang memliki ikon yaitu Monas. Monas merupakan simbol dari
interpretasi perjuangan tanpa mengenal putus asa, sejalan dengan pendapat
berikut yang mengatakan bahwa tugu peringatan nasional yang satu ini merupakan
salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan
dan perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda (:
http://indocropcircles.wordpress.com/2011/10/11/misteri-relief-wanita-di-obor-
api-tugu-monas/).
Monas
dibangun untuk menandakan perjuangan masyarakat Indonesia yang terus berjuang
melawan penjajah, memperjuangkan kemerdekaan. Kobaran semangat yang ada di
puncak Monas adalah simbol perjuangan yang membakar semangat. Dihubungkan
dengan isi novel N5M bahwa dalam meraih cita-cita tidak boleh putus asa harus
terus berjuang dan selalu semangat. Menurut Said dan Dulmajid, Indonesia adalah
tempat untuk berjuang yang ditunjukkan oleh kutipan di bawah ini:
“...Mereka menganggap,
awan ini ada di langit Indonesia, karena itu apa pun imajinasi orang, itu
tetaplah Indonesia. Berbicara tentang cita- cita, mereka juga sepakat bahwa
negara inilah tempat berjuang dan tempat yang paling tepat untuk berbuat
baik.”(N5M, 2011: 210)
Jadi,
makna lima dari judul novel N5M, menunjukkan jumlah menara yang menjadi tujuan (impian) dari Alif
dan sahabat-sahabatnya. Simbol dari menara yang disebutkan di atas memiliki
interpretasi yaitu Menara Washington interpretasi dari kebebasan untuk menjadi
mandiri, Menara Big Ben mengacu pada kedisiplinan/ketepatan waktu, Menara
Al-Azhar menjelaskan tentang ilmu pengetahuan, Menara Masjidil Haram
interpretasi dari keislaman yang kuat, dan Monas adalah cerminan dari
perjuangan tanpa mengenal putus asa.
2.
Lima Negara Empat Benua
Subbab
pada novel N5M ada juga yang memiliki tanda lima yaitu pada subbab yang diberi
judul Lima Negara Empat Benua. Judul pada subbab ini merupakan objek dari lima selanjutnya.
Di dalam subbab ini menjelaskan tentang lima tempat yang ingin ditaklukkan oleh
Alif dan sahabatnya, seperti tertera di bawah ini; ““Aku melihat dunia di
awan-awan itu,” kataku sok puitis. Aku gerakkan telunjukku menunjukkan
garis-garis imajiner di awan kepada Raja yang duduk di sampingku. Kami
sama-sama menengadah. “Benua Amerika,” kataku. ”(N5M, 2011: 208) “...Lalu aku
ingin melihat kehebatan kerajaan Inggris yang pernah mengangkangi dunia. Aku
penasaran dengan cerita dalam buku reading kita, ada Big Ben yang cantik dan
bagian rute jalan kaki dari Buckingham Palace ke Trafalgar Square,” kata Raja
menggebu-gebu kepada kami ”(N5M, 2011: 208-209) “...Apalagi Mesir yang disebut
ibu peradaban dunia. Ada Laut Merah, Kairo, Pira-mid, dan sampai kampus Al
Azhar. Siapa tahu nanti aku bisa kuliah ke sana,” tekad Atang.” (N5M, 2011:
209) “Jangan lupa dengan Iran, Iraq, India, dan negara lainnya. Semua punya
keunikan yang mengejutkan. Bagiku, wilayah Asia dan Afrika lebih menarik untuk
diselami,” kata Baso mendukung Atang.” (N5M, 2011: 209) “...Mereka menganggap,
awan ini ada di langit Indonesia, karena itu apa pun imajinasi orang, itu
tetaplah Indonesia. Berbicara tentang cita- cita, mereka juga sepakat bahwa
negara inilah tempat berjuang dan tempat yang paling tepat untuk berbuat
baik.”(N5M, 2011: 210)
Kutipan-kutipan
di atas menunjukkan bahwa memang ada lima negara yang ingin mereka jadikan
tempat impian mereka, kelima tempat itu yaitu Amerika, Inggris, Mesir, Arab
Saudi, dan Indonesia, melihat negara tujuan mereka peneliti juga bisa
menginterpretasikan bahwa ada empat benua tujuan yaitu Eropa, Amerika, Asia,
dan Afrika. Kutipan pertama, menjelaskan tentang tanda lima yang mengacu atau
representamennya yaitu tempat yang ingin dituju, yaitu Amerika. Seperti
penjelasan sebelumnya bahwa Amerika menjadi tempat yang dituju oleh Alif.
Kutipan kedua menjelaskan mengenai negara Inggris dengan segala
pernak-perniknya, ini menjadi tempat Raja untuk menempuh pendidikan. Kutipan
ketiga dengan tekad Atang mengatakan bahwa tempat yang a ingin taklukan adalah
Mesir. Keempat adalah kutipan yang menjelaskan bahwa
Baso
ingin mengelilingi Asia dan Afrika. dan yang terakhir adalah penyataan Said dan
Atang yang ingin tetap di Indonesia.
Interpretasi
dari kelima negara yang telah disebutkan di atas menurut peneliti adalah simbol
bahwa manusia itu bisa bermimpi setinggi-tingginya dan sejauh-jauhnya. Serta
kelima negara ini juga memiliki khasnya masing-masing sesuai dengan penjelasan
sebelumnya tentang judul novel Negeri 5 Menara. Negara Amerika yang memiliki
menara Washington sebagai simbol kebebasan, negara Inggris yang memiliki menara
cantik yaitu, menara Big Ben yang menjadi simbol ketepatan waktu, negara Mesir
memiliki khas yaitu menara Al-Azhar sebagai simbol keilmuan dan pengetahuan,
negara Arab Saudi, dengan menara Masjidil Haram yang mencerminkan keislaman,
dan negara Indonesia yang memiliki Monas yang menjadi simbol perjuangan.
3.
Lima Sahabat Baru
Jalan
hidup Alif berubah setelah bertemu dengan lima sahabatnya yang berasal dari
kota yang berbeda-beda dan tentu saja memiliki karakter yang berbeda-beda juga.
Kelima sahabatnya ini membuat Alif mengubah keterpaksaannya menjadi sebuah
keikhlasan dalam menerima kenyataannya dia harus sekolah di PM (N5M, 2011:
399).
Wujud
keakraban Alif dan sahabatnya juga tampak pada julukkan yang diberi kepada
mereka, yaitu Said Jufri dari Surabaya (Menara 1), Raja Lubis dari Medan
(Menara 2), Atang dari Bandung (Menara 4), Dulmajid dari Madura (Menara 5), dan
Baso Salahuddin dari Sulawesi (Menara 6), adalah kelima sahabat Alif Fikri
(Menara 3) di PM (N5M, 2011: 92-96).
Pemberian
julukan yang Alif dan sahabatnya dapatkan, dilihat dari objek yaitu
persahabatan Alif dan sahabatnya, dan representamennya bahwa Said Jufri dari
Surabaya (Menara 1), Raja Lubis dari Medan (Menara 2), Atang dari Bandung
(Menara 4), Dulmajid dari Madura (Menara 5), dan Baso Salahuddin dari Sulawesi
(Menara 6). Interpretasi dari kelima julukan sahabat Alif adalah, yang pertama
Said Jufri dari Surabaya yang dijuluki menara 1 karena Said Jufri dianggap
orang yang paling dewasa di antara Alif dan sahabatnya, selalu optimis, dan
elalu berpikir positif. Terlihat dari kutipan di bawah ini.
“Tidak salah kalau dia
yang paling dewasa di antara kami....” (N5M, 2011: 45)
“... Said dengan
optimis memberi kami harapan.”(N5M, 2011: 65) “...Anak keturunan Arab ini
memang melihat segala sesuatu dari sisi putihnya, sisi positifnya, dan dengan gampang melupakan sisi buruknya.” (N5M, 2011: 7)
“...belajar dari Said,
aku memilih optimis saja.” (N5M, 2011: 82)
“Demi menghormati sang
ketua kelas dan ketua kamar yang paling berumur,...” (N5M, 2011: 93)
“...Pelan-pelan aku
merasa Said tumbuh menjadi pemimpin informal kami. Perawakan yang seperti
orangtua dan cara berpikirnya yang dewasa membuat kami menerimanya sebagai yang
terdepan. Dia kerap jadi tempat kami bertanya kata akhir kalau ada masalah. Aku
sendiri mengagumi caranya melihat segala sesuatu dengan positif. Dalam hati aku
menganggap dia abang laki-laki yang aku tidak pernah punya.”(N5M, 2011: 156)
Interpretasi
yang kedua, Raja sebagai menara 2, Raja Lubis seorang pemuda Batak, yang
memiliki sifat percaya dri, kutu buku, bersemangat, ekspresif, senang berbagi
informasi, pintar berpidato, senang bercanda, dan aktif.
“...Raja Lubis yang duduk di meja paling depan
maju dengan penuh percaya diri.” (N5M, 2011:44)
“...Raja dengan bangga
berbisik kepadaku. Matanya nanar menatap buku ini. Dasar si kutu buku. ” (N5M, 2011: 59-60)
“...Raja dengan
bersemangat. Dia selalu dengan
senang hati berbagi informasi apa
saja, melebihi dari apa yang kami tanya. “(N5M,
2011:61)
“...Raja yang paling
ekspresif, tampak mengayunayunkan tinjunya di udara sambil berteriak “Allahu
Akbar!” ”(N5M, 2011: 108)
“Raja yang paling pede
maju selangkah ke depan dan membuka pembicaraan.(N5M, 2011: 125)
“Raja yang ahli pidato
menjadi mentor.”(N5M, 2011: 150)
“...Raja sering
bercanda,. ” (N5M, 2011: 156)
“ Raja yang paling
agresif dalam perkara kirim mengirim surat ini,
khususnya untuk
penerbitan berbahasa Inggris. ”
(N5M, 2011: 175)
Sahabat
Alif yang ketiga, Atang, berasal dari Bandung, yang paling patuh dengan aturan,
kreatif, selalu berpikir yang lurus, namun masih sering ragu-ragu. Atang yang
telah membawa Sahibul Menara keliling kota Bandung.
“...Tiba-tiba Atang
yang berjalan paling depan berhenti dan surut beberapa langkah. Dengan
takut-takut dia melirik ke meja perizinan di depan kantor pengasuhan.” (N5M,
2011: 123)
“Atang, dan Baso
ragu-ragu. ” (N5M, 2011: 128)
“...Atang yang paling
patuh aturan. ”(N5M, 2011: 129)
“...Atang yang pemain
teater mengajarkanku agar menggunakan napas perut supaya suara menjadi bulat
dan lantang.” (N5M, 2011: 152)
“...Atang yang kreatif
Membawa selimut “batang padi” yang bermotif strip hitam putih dari kamarnya dan
mengembangkannya di pinggir lapangan. ”(N5M, 2011: 278)
“Sementara Atang yang baik dan lurus,...”(N5M,
2011: 353)
Sahabat
yang keempat, Dulmajid adalah pemuda asal Madura yang memiliki sifat paling
jujur, paling keras, setia kawan, dan nasionalis. Dulmajid ingin sekali membuat
taraf keluarganya meningkat, Dulmajid pemuda yang paling pekerja keras
dibandingkan dengan Sahibul Menara yang lain. sifat-sfatnya seperti ditunjukkan
pada kutipan di bawah ini:
“Kawanku yang lain
adalah Dulmajid dari Madura... Di kemudian hari, aku menyadari dia orang paling
jujur, paling keras, tapi juga paling setia kawan yang aku kenal.” (N5M, 2011:
46)
“Dulmajid, si anak
Madura yang tidak pernah memperlihatkan rasa takutnya, kali ini tampak serius.
” (N5M, 2011: 241)
“Dulmajid bertekad
untuk belajar keras, kalau bisa juga meningkatkan taraf hidup keluarganya yang
telah beberapa generasi menjadi petani garam.”(N5M, 2011: 242-243)
“...Dulmajid sangat
nasionalis,. ”(N5M, 2011: 405)
Sahabat
yang kelima, berasal dar tmur Indonesia, Gowa, Sulawesi Selatan, Baso Salahudin.
Pemuda yang selalu terobsesi menghapalkan Al-Quran guna memberika jubah
kemuliaan kepada kedua orang tuanya yang telah menghadap sang Ilahi. Baso
memiliki sifat pelupa tapi cerdas, pendiam, pemalu, paling rajin ke masjid,
memiliki daya hapal yang tinggi, bisa menjadi guru yang baik untuk Sahibul
Menara yang lain dan pribadi yang tertutup. karakteristik Baso dapat dilihat
pada kutipan-kutipan di bawah ini:
“Baso —di tengah
kecerdasannya—paling sering lupa memakainja sehingga dia menjadi langganan
mahkamah. ” (N5M, 2011: 86)
“Baso adalah anak paling paling rajin di
antara kami dan paling bersegera kalau disuruh ke masjid. ” (N5M, 2011: 92)
“...Semua tercetak
paten di otaknya. Mungkin ini yang disebut photographic memory, Dia bagai
mutiara kampung di Gowa.” (N5M, 2011: 117)
“Baso si pemilik
photographic memory ini telah bertekad bulat untuk bisa menghapal tiga puluh
juz Al-Quran selama di PM segera bergabung dengan kelompok Thahfidzul Quran. ”
(N5M, 2011:163)
“Di tengah
kecemerlangan otaknya, kekurangan Baso adalah sifat pelupa. ”(N5M, 2011: 306)
“...Selama ini memang
Baso lah kawan kami yang paling pendiam, pemalu dan tertutup. ”(N5M, 2011:359)
“ Apalagi Baso yang
selalu rajin belajar.” (N5M, 2011: 369)
“Baso selama ini adalah
referensi terhebat kami untuk masalah pelajaran selain Bahasa Inggris. Tidak
itu saja, dia pintar untuk menerangkan pelajaran dengan bahasa sederhana dan
menyemangati kita untuk memahami dan menghapalkan.” (N5M, 2011: 382)
Lima
sahabat baru Alif ini adalah objek dan indeks dari hasil merantau, karena kalau
kita merantau ke daerah orang kita akan mendapatkan keluarga dan kawan yang
baru sesuai dengan kutipan kata mutiara dari Imam Syafi’i yang diajarkan di
Pondok Modern Gontor, di bawah ini:
“Orang berilmu dan
beradab tidak akan diam di kampung halamannya
Tinggalkan negerimu dan
merantaulah ke negeri orang Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari
kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah,
manisnya hidup setelah lelah berjuang” (N5M, 2011: xii)
Representamen
dari Lima sahabat Alif yaitu Atang, Raja, Baso, Said, dan Dulmajid. Melihat
keakraban yang mereka jalin peneliti menginterpretasikan sebuah keluarga baru
yang membuat Alif menjadi tambah kuat pendiriannya bahwa ia tidak salah masuk
PM. Keterpaksaan yang berakhir menjadi sebuah kesuksesan yang luar biasa, restu
dari orang tua dan restu dari Allah telah mengubah Alif menjadi ikhlas, dan
pertemuannya dengan anggota Sahibul Menara yang lain menambah keyakinannya
untuk tetap berada di PM keikhlasan Alif ini adalah indeks dari sebuah persahabatan
dan kekeluargaan yang baru Alif dapatkan di PM.
Persahabatan
mereka yang dibalut dengan pertengkaran dan canda tawa, bahkan ada air mata.
Alif merasa menemukan keluarga baru di PM lewat sahabat- sahabatnya. Kelima
sahabat Alif yang mempunyai karakter yang berbeda namun tetap mempunyai tekad
yang sama yaitu ingin menggapai cita-cita mereka yang tinggi seperti halnya
menara.
“. . .Bagaikan menara,
cita-cita kami tinggi menjulang. Kami ingin sampai di puncak-puncak mimpi
kelak.”(N5M, 2011: 94) Indeks yang terlihat dari lima sahabat baru Alif ini
menjelaskan bahwa kita tidak akan pernah kehilangan keluarga atau kawan kalau
kita ingin merantau ke negeri orang. Merantaulah supaya kita dapat memiliki
lebih banyak keluarga dan teman baru.
4.
Lima Kota yang Berbeda
Pembahasan
selanjutnya akan mengupas tanda yang ada pada kota asal kelima sahabat Alif
yang berbeda di Indonesia. Semua kota yang dipilih oleh penulis merupakan
kota-kota yang mayoritas penduduknya beragama Islam, juga memiliki latar
belakang pendidikan yang cukup kuat. Kelima kota yang berbeda ini merupakan
simbol dari perkembangan Islam yang ada di Indonesia. Kelima kota ini telah
mewakili kota-kota yang ada di Indonesia.
Kota
pertama, Kota Bandung yang menjadi asal Atang adalah kota yang memiliki julukan
“Paris van Java” yang diberikan oleh orang-orang Belanda setelah merasakan
kenyamanan hidup di Bandung, berdasarkan buku yang berjudul Peta Kota &
Index Bandung, Paris van Java kota Bandung mempunyai 5 fungsi yang
disandangnya: pusat kegatan pemerintah, perdagangan, pendidikan, kebudayaan,
dan pariwsata. Serta memiliki penduduk mayoritas Islam ini menurut orang Minang
(A. Fuadi) sendiri adalah kota yang strategis untuk menyekolahkan anak-anak
mereka, terlihat di dalam kutipan di bawah ini:
“...orang Minang lebih
suka mengirim anaknya sekolah ke Bandung daripada ke kota lain.Entah kebetulan,
di Minang juga ada wilayah yang disebut Periangan. Tapi alasan praktisnya
mungkin karena Bandung cukup dekat dan lebih murah. Yogya murah tapi jauh,
Jakarta dekat, tapi mahal.” (N5M, 2011: 310)
Kota
Bandung juga dianggap A. Fuadi kota yang pendidikannya sudah semakin maju. Ini
membuat interpretasi terhadap kota Bandung semakin besar, selain murah,
ternyata Bandung juga memiliki pendidikan yang baik. Terlihat pada kutipan di
bawah ini:
“...Sepanjang
perjalanan dia bercerita tentang kemajuan pendidikan di Bandung. ” (N5M, 2011:
218)
Kota
kedua, yaitu Medan, kota asal dari Raja Lubis, seorang anak yang cerdas senang
membantu sesama. Apabila mendengar kata kota Medan, pasti pikiran akan menjawab
langsung kota yang mayoritas bukan berpenduduk Islam.
Padahal
salah besar, ternyata penduduk di kota Medan mayoritas adalah Islam, dan
penduduknya memang taat dalam menjalankan perintah Allah SWT. “Dengan gagah dia
berkata, “Aku ingin menjadi ulama yang intelek, Ustad. Dari sepuluh orang
bersaudara, aku sendirilah yang diberi amanat Ibu dan Bapak untuk belajar
agama.””(N5M, 2011: 44)
Kutipan
di atas cukup menjelaskan bahwa di Medan penduduknya masih mengharapkan ulama
yang memang bisa diandalkan, bukan hanya sekedar bisa berbicara di atas mimbar.
Di dalam sebuah skripsi dengan judul “Eksistensi Masjid yang ada di Medan
sekitarnya dalam tinjauan Historis” menjelaskan bahwa di kota Medan banyak
peninggalan-peninggalan kerajaan Islam yang masih dijaga.
Kota
ketiga, Gowa, Sulawesi Selatan, asal dari tokoh Baso Salahudin yang datang dari
timur Indonesia, yang memiliki otak yang cerdas, dan penghapal Al- Quran. Kota
asal Baso ini, pada zaman penyebaran islam merupakan kota atau daerah yang
pertama didatangi oleh para penyebar agama Islam di bagian Indonesia Timur.
Peradaban Islam dipertahankan hingga sekarang, terbukti dilihat dari penduduk
Gowa yang mayoritas Islam, dan adanya peninggalan yang bersejerah di Gowa
(http://id.wikipedia.org/wiki/Gowa,SulawesiSealatan) .
“...“Saya berasal dari
Sulawesi,” kata Baso Salahuddin yang berlayar dari Gowa. ” (N5M, 2011: 46)
Kota
keempat, yaitu Surabaya yang juga merupakan kota dengan mayoritas berpenduduk
Islam. Pesantren yang terbaik dan tertua ada di Surabaya tempat tinggal Said
Jufri. Said tinggal bersama keluarganya di Surabaya. Surabaya juga terkenal
dengan Wali Songo yang menyebarkan Islam di pulau Jawa (http://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya).
Kutipan
di bawah ini menjelaskan bahwa Said memang berasal dari kota Surabaya.“Makhluk
paling raksasa di kelas adalah Said Jufri yang berasal dari Surabaya... Dia
memang keturunan kelima dari saudagar Arab yang mendarat dan menetap di kawasan
Ampel, Surabaya. ”(N5M, 2011: 45)
Kota
kelima, dari derah asal Dulmajid yang berasal dari Madura, sebuah kota yang
juga berpenduduk mayoritas Islam. Di Madura dua Wali Songo yang menyebarkan
Islam, yaitu: Sunan Giri dan Sunan Pasudan, kedua sunan ini memberikan dampak
yang besar bagi umat Islam di Madura. Hingga saat ini semua penduduk Madura memeluk agama Islam (http://id.wikipedia.org/wiki/Madura).
“Kawanku yang lain
adalah Dulmajid dari Madura. ” (N5M,
2011: 46)
Lima
kota yang berbeda yang menjadi simbol perkembangan islam saat ini di Indonesia.
Jelas terlihat di Indonesia, Islam tetap menjadi agama yang kuat dan mempunyai
penerus yang kuat juga. Didukung dengan pendidikan mulai dari non Islam hingga
berbasis Islam, semuanya membuat kota-kota ini telah mewakili negara Indonesia
yang memang terkenal dengan penduduk yang mayoritas Islam.
Objek
yang ada yaitu lima kota yang berbeda dan representamennya yaitu Bandung,
Medan, Gowa, Surabaya, dan Madura. Peneliti menginterpretasikanya sesuai dengan
penjelasan-penjelasan di atas bahwa kelima kota ini simbol dari keteguhan Islam
di balik asal daerah sahabat-sahabat Alif.
5.
Lima Impian yang jadi Nyata
Perjuangan
yang panjang telah Sahibul Menara lalui, ada tangis, ada tawa, dan ada amarah
semua telah mereka lewat dengan baik. Berlomba-lomba di dalam ujian untuk
mendapatkan hasil yang maksimal (N5M, 2011: 378-393). Banyak sejarah yang telah
mereka torehkan selama menjadi santri di PM. Impian-impian yang mereka miliki,
akhirnya menjadi sebuah kenyataan yang luar biasa. Impian yang Alif dan
sahabat-sahabatnya raih merupakan indeks yang terjadi karena perjuangan,
kedisiplinan, keislaman yang kuat, kepemimpinan, dan ilmu pengetahuan yang
mereka miliki benar-benar mereka aplikasikan. Lima impian yang jadi nyata
adalah objek terakhir dari tanda yang peneliti temukan yang representamen yaitu
Raja berhasil ke Inggris, Alif berhasil ke Amerika, Atang berhasil ke Mesir,
Baso tentu saja ke Mekkah, serta Dulmajid dan Said yang berhasil di Indonesia.
Kedisiplinan
yang diajarkan oleh PM sama halnya dengan kedisiplinan yang identik dengan
Menara Big Ben/Menara Elizabeth di London, yang telah membawa Raja benar-benar
terbang ke London untuk melanjutkan pendidikan dan dakwahnya tentang Islam,
keberhasilan Raja ini merupakan indeks dari keinginannya meraih cita-cita yang
terlihat di kutipan berikut ini, “Sementara Raja berkisah kalau dia telah satu
tahun tinggal di London, setelah menyelesaikan kuliah hukum Islam dengan gelar
“License” di Madinah. Dia akan berada di London selama dua tahun memenuhi
undangan komunitas Muslim Indonesia di kota ini untuk menjadi pembina agama.
Raja, dengan dibantu Fatia, antara lain bertanggung jawab menjalankan kegiatan
masjid, madrasah akhir pekan dan pengajian rutin. Dia juga mengambil kelas
malam di London Metropolitan University untuk bidang linguistik.” (N5M, 2011:
403-404)
Perjuangan
yang gigih dan tak kenal lelah menjadikan Said dan Dulmajid berhasil menjadi
pemuda yang memperbaiki mutu pendidikan sesuai dengan yang dicita-citakan
mereka, indeks ini juga sesuai dengan Monas sebagai simbol perjuangan untuk
merebut tanah tercinta ini. Lewat Said dan Dulmajid penulis menceritakan bahwa
Indonesia negera yang kaya akan pemuda yang berkualitas. Lewat kerja sama Said
dan Dulmajid sebuah pesantren berhasil mereka dirikan tentu dengan semangat PM
yang mereka punyai. Penjelasan di atas terlihat dalam kutipan di bawah ini, “Ah,
aku tidak muluk-muluk. Aku akan mencoba kuliah dan lalu kembali ke kampung dan
membuka madrasah di kampungku,” kata Dulmajid. Said mengangguk-angguk setuju,
dan menambahkan. “Aku juga. Setelah sekolah, aku balik ke Kampung Ampel, dan
memperbaiki mutu sekolah dan madrasah yang ada,” kata Said.(N5M, 2011: 210) “Atang
mendapat kabar kalau kini Said meneruskan bisnis batik keluarga Jufri di Pasar
Ampel, Surabaya. Sesuai cita-cita mereka dulu, Said dan Dulmajid bekerja sama
mendirikan sebuah pondok dengan semangat PM di Surabaya.” (N5M, 2011: 403)
Cinta
tanah air dan ingin memajukan negera sendiri masih menjadi prioritas Sahibul
Menara, semuanya hanya berniat untuk menimba ilmu di luar untuk membuat negeri
ini maju, seperti dikatakan Atang pada kutipan di bawah ini:
“Negaraku surgaku, bila
tiba waktunya, kita wajib pulang mengamalkan ilmu, memajukan bangsa kita,”
balas Atang. Aku yakin kami semua sepakat dengan Atang.”(N5M, 2011: 405)
Agama yang kuat,
menjadi salah satu ciri khas pemuda Gowa ini, Baso Salahudin yang memiliki
impian ingin bersekolah ke Mekkah dengan bermodalkan hafalan Al-Quran telah
membuktikan kepada banyak orang bahwa uang bukanlah hal yang paling utama saat
kita ingin mencapai cita-cita. Sesuai dengan karakternya yang kuat dalam
agamanya, Baso berhasil melanjutan pendidikannya di Mekkah dengan modal hafal
Al-Quran dan beasiswa pasti sudah ditangan. Berbanding lurus dengan pemahaman
orang kebanyakan tentang Mekkah yaitu tempat untuk beribadah umat Islam, dengan
kecintaan kita dengan Allah saja maka impian bisa jadi nyata. Keberhasilan Baso
ini dapat dilihat dalam kutipan:
“Atang
bahkan punya kabar tentang Baso, si otak cemerlang yang mengundurkan diri dari
PM karena ingin merawat neneknya dan menghapal Al-Quran untuk almarhum orang
tuanya. Allah memperjalankan Baso yang brilian ini kuliah di Mekkah. Dengan
modal hapal luar kepala segenap isi Al- Quran, dia mendapat beasiswa penuh dari
pemerintah Arab Saudi.” (N5M, 2011:403)
Menara
dengan julukan menara Ilmu telah berhasil Atang taklukan. Kairo yang menjadi
tujuannya untuk menimba ilmu telah ia rasakan. Seperti kutipan di bawah ini,
“Sedangkan Atang
sendiri telah delapan tahun menuntut ilmu di Kairo dan sekarang menjadi
mahasiswa program doktoral untuk ilmu hadist di Universitas Al-Azhar. ” (N5M,
2011: 403)
Impian
terakhir adalah impian Alif yang ingin menginjakkan kakinya ke negara adikuasa
yaitu Amerika. Kedisiplinan, perjuangan, keislaman, ilmu dan pengetahuan, serta
sifat kemandirian yang Alif dapatkan di PM membuat dia tahan banting. Alif
berhasil menaklukan Amerika. Di bawah ini kutipan yang menjelaskan bahwa Alif
telah sukses, “Kantorku berada di Independence Avenue, jalan yang selalu riuh
dengan pejalan kaki dan lalu lintas mobil. Diapit dua tempat tujuan wisata
terkenal di ibukota Amerika Serikat, The Capitol and The Mall, tempat
berpusatnya aneka museum Smithsonian yang tidak bakal habis dijalani sebulan.
”(N5M, 2011: 2)
Lima
impian yang awalnya seperti mimpi yang tidak mungkin jadi nyata sekarang
berubah menjadi nyata, berawal dari mimpi lalu didorong oleh keinginan yang
kuat, akhirnya kelima impian Sahibul Menara tercapai. Alif bahkan sempat tak
percaya seperti yang ia katakan pada kutipan di bawah ini:
“...Belasan tahun lalu,
di samping menara masjid PM, kami kerap menengadah ke langit menjelang sore,
berebut menceritakan impian- impian gila kami yang setinggi langit: Arab Saudi,
Mesir, Eropa, Amerika dan Indonesia* Aku tergetar mengingat segala kebetulan-
kebetulan seperti ini ” (N5M, 2011: 402)
Dulu
kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Aku
melihat awan yang seperti benua Amerika, Raja bersikeras awan yang sama
berbentuk Eropa, sementara Atang tidak yakin dengan kami berdua, dan sangat
percaya bahwa awan itu berbentuk benua Afrika. Baso malah melihat semua ini
dalam konteks Asia, sedangkan Said dan Dulmajid sangat nasionalis, awan itu
berbentuk peta negara kesatuan Indonesia. Dulu kami tidak takut bermimpi, walau
sejujurnya juga tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Tapi lihatlah hari ini.
Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkan dengan doa, Tuhan
mengirim benua impian ke pelukan masing-masing. Kun fayakun, maka semula awan
impian, kini hidup yang nyata. Kami berenam telah berada di lima negara yang
berbeda. Di lima menara impian kami. Jangan pernah remehkan impian, walau
setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Man
jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil….. (N5M, 2011: 405) Kelima
impian yang berhasil dicapai oleh Sahibul Menara ini merupakan indeks atas apa
yang mereka lakukan di PM dan kehidupan setelah di PM. Perjuangan yang pantang
menyerah, kedisiplinan, keislaman yang kuat, ilmu pengetahuan, dan sebuah
kepemimpinan baik bagi diri sendiri atau untuk orang lain menempa jiwa-jiwa
yang luar biasa. Indeks ini juga merupakan interpretasi karena menjadi nyatanya
impian ini merupakan hadiah dari yang mereka lakukan untuk meraih impian
mereka.
Slogan
yang menjadi khasnya N5M, Man Jadda Wajada benar-benar diterapkan oleh Alif dan
sahabat-sahabatnya untuk meraih impian mereka terlihat dari kesungguhan yang
mereka lakukan hingga impian mereka tercapai. Man Jadda Wajada yang menurut
Alif dan sahabat-sahabatnya merupakan kata-kata motivasi yang sangat manjur
untuk meraih impian mereka terlihat pada kutipan di bawah ini, “...Man jadda
wajada: sepotong kata asing ini bak mantera ajaib yang ampuh bekerja. ”(N5M,
2011: 40)
“...man jadda wajada.
Mantera ajaib berbahasa Arab ini bermakna tegas: “Siapa yang
bersungguh-sungguh, akan berhasil!”.(N5M, 2011: 41)
“Rumus man jadda wajada
terbukti mujarab. Kesungguhanku segera dibalas kontan. ” (N5M, 2011: 82)
“ Tapi sesuai kata
sakti yang aku percayai itu, man jadda wajada, aku berusaha tidak kendor.
”(N5M, 2011: 160)
“Banyak keajaiban
terjadi di dunia karena orang telah memasang tekad dan niat, dan lalu mencoba
merealisasikannya. Aku pun percaya dengan man jadda wajada itu. ”(N5M, 2011:
233)
“... Mulailah dengan
bismiliah dan selalu amalkan man jadda wajada”.(N5M, 2011: 292)
“Can it be done? Sure.
Ini agak mission imposible, man jadda wajada ya akhi. Insya Allah kita
bisa.”(N5M, 2011: 333)
Kata-kata
motivasi yang terus dibawa oleh Alif dan sahabat-sahabatnya hingga mencapai
impian mereka terbukti pada kutipan diakhir penceritaan (N5M, 2011: 405) Man
Jadda Wajada masih tetap menjadi mantera mereka. Man Jadda Wajada merupakan
salah satu kata-kata motivasi yang diajarkan di PM, Zainudin (2010: viii)
mengatakan bahwa di Pondok Pesantren Modern Gontor, peran kata- kata menjadi
penting karena diajarkan sejak awal masuk pada tahun pertama.
BAB
V
PENUTUP
A. Simpulan
Dari
uraian pembahasan dapat disimpulkan bahwa makna lima pada N5M adalah tanda yang
mengacu pada jumlah impian dari Alif dan sahabat- sahabatnya, yang didukung
oleh tanda-tanda lima yang lain yaitu jumlah menara (di setiap negara) yang
ingin diraih oleh Alif dan sahabatnya, jumlah sahabat baru Alif yang juga lima
orang, ada juga lima kota asal dari sahabat-sahabat Alif, dan di akhir ada lima
impian yang berhasil dicapai oleh Alif dan sahabat-sahabatnya.
Lima
menara yang dimaksud adalah Menara Washington, Washington DC, Amerika; Menara
Big Ben/Elizabeth, London, Inggris; Menara Al-Azhar, Kairo, Mesir; Menara
Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi; dan Menara Monas, Jakarta, Indonesia. Lima
sahabat Alif yaitu Raja, Atang, Baso, Said, dan Dulmajid. Lima kota asal sahabat-sahabat
Alif yaitu dari kota Medan, Bandung, Gowa, Madura, dan Surabaya. Serta lima
impian yang berhasil mereka capai yaitu Alif berhasil bekerja di Washington DC,
Amerika; Atang berhasil menimba ilmu di Kairo, Mesir; Raja berhasil berdakwa di
London, Baso berhasil mendapatkan beasisiwa ke Makkah dan Said serta Dulmajid
berhasil mengembangkan mutu pendidikan di Indonesia.
B. Saran
Setelah
penelitian ini dilakukan, ada beberapa saran yang dapat diberikan peneliti
kepada pembaca Yaitu Mengingat penelitian ini hanya difokuskan pada makna lima
yang ada di dalam novel N5M saja, maka disarankan agar peneliti selanjutnya
dapat meneliti pada aspek yang lain, sehingga memperluas pengetahuan untuk
penelitian-penelitian selanjutnya. Kepada pembaca untuk dapat memanfaatkan
karya sastra khususnya prosa-prosa yang mengangkat perjuangan untuk meraih
impian atau cita-cita untuk menjadikan motivasi di dalam diri agar meraih semua
impian yang diinginkan pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Sematik Bahasa Indonesia.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dewanto, Nirwan. 2011.
Sastra Penting bagi Peradaban Bangsa.
(http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/24/03295420/Sastra.Penting.bag
i.Peradaban.Bangsa diakses 12 Maret 2014)
Djajasudarma, Fatimah.
2013. Semantik 2, Relasi Makna, Paradigmatik, Sintagmatik, dan Derivasional.
Bandung: Refika Aditama.
Eco, Umberto. 1996.
Sebuah Pengantar Menuju Logika Kebudayaan. Panuti Sudjiman dan Aart van Zoest
(Eds). Serba-Serbi Semiotika. Hal 31. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Endraswara, Suwardi.
2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Fuadi, A. 2011. Negeri
5 Menara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hanifah, Mutya. 27 Juni 2012. Big Ben Kini Tinggal Sejarah. (http://travel.okezone.com/read/2012/06/27/409/654531/big-ben-kini-
tinggal-sejarah diakses 5 April 2014)
http://dasborpariwisata.blogspot.com/2013/02/menara-big-ben-yang-terkenal.html
http://firdauzwajdi.wordpress.com/sekilas-ttg-al-azhar/
http://id.wikipedia.org/wiki/Big_Ben
http://id.wikipedia.org/wiki/Gowa,SulawesiSealatan
http://id.wikipedia.org/wiki/Madura
http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Al-Azhar
http://id.wikipedia.org/wiki/Masjidil_Haram
http://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Washington
http://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya
http://idrislaagaligo.blogspot.com/2012/01/blog-post.html
http://indocropcircles.wordpress.com/2011/10/11/misteri-relief-wanita-di-obor-
api-tugu-monas/
http://indonesiaindonesia.com/f/83928-sejarah-tugu-monas-monumen-nasional-
jakarta/
Komentar
Posting Komentar